O, Amuk, Kapak

(1981)
Karya Sastra

O, Amuk, Kapak merupakan gabungan tiga kumpulan sajak Sutardji Calzoum Bachri. Cetakan pertama diterbitkan oleh Sinar Harapan tahun 1981 dan cetakan kedua diterbitkan oleh Yayasan Indonesia tahun 2002. Cetakan kedua ini diberi pengantar khusus yang mengutarakan pentingnya Sutardji Calzoum Bachri dan sulitnya memperoleh kumpulan sajak karya penyair itu sehingga perlu dilakukan penerbitan ulang karena sajak-sajak Sutardji sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah.

Kumpulan sajak ini dilengkapi dengan Kredo Sajak Sutardji yang amat penting diketahui. Dengan kredonya itu, Sutardji memaparkan dasar pemikiran tentang ihwal hakikat kata dan gagasannya yang terkait dengan upaya "pembebasan kata dari makna konvensional, gramatika, dan tabu kata." Oleh karena itu, kredo tersebut dapat menjadi pangkal tolak atau rujukan dalam memahami sajak-sajak Sutardji yang terkenal aneh dan sulit dipahami dalam O, Amuk, Kapak.

O, Amuk, Kapak mengambil judul tiga kumpulan sajak yang digabungkan menjadi satu, yakni O (1966—1973), Amuk (1973—1976), dan Kapak (1976—1979). Terhadap kehadiran sajak-sajak yang terkumpul dalam buku itu Dami N Toda (1977) menyatakan bahwa selama 30-an tahun itu, tidak ada yang menantang wawasan estetika persajakan Chairil Anwar. Namun pada tahun 1972, di Bandung, meledaklah bom yang dilemparkan Sutardji Calzoum Bachri, beberapa kredo sajaknya, menegaskan bahwa "Kata bukanlah alat mengantarkan pengertian, kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea." Kredo sajak itu diwujudkan dalam "O, Amuk, Kapak" sebagai sajak yang berbeda dari sajak pada zamannya. O, Amuk, Kapak menjadi penanda kehadiran sajak baru dengan estetika yang mengulangi estetika Chairil Anwar.

Subagio Sastrawardoyo(1982) menegaskan bahwa perkembangan sajak modern Indonesia yang pernah dikuasai sajak naratif sebagai balada Rendra, oleh Sutardji telah dikembangkan kepada rel Chairil Anwar yang bertolak dari sikap dan pandangan filsafat. Sutardji telah membesarkan sajak dari cerita, dari situasi manusia yang aksidental. Dengan Sutardji (melalui O, Amuk, Kapak) sajak kembali mengungkapkan situasi manusia yang mutlak, yakni selalu rindu kepada persatuan dengan asal kejadiannya lewat penghayatan kata. Atas dasar kumpulan sajak ini, Arif Bagus Prasetyo (2005) menyatakan pengakuannya bahwa dalam khazanah persajakan di Indonesia, O, Amuk, Kapak telah menjadi karya klasik dan puluhan tahun semenjak kemunculannya yang pertama di hadirat publik sungguh terasa keterlaluan jika seorang pencinta sastra Indonesia sama sekali buta terhadap model puitik penyair legendaris Sutardji Calzoum Bachri—terutama yang termasuk dalam O, Amuk, Kapak.